Oleh ; M.Roni Leriang (wartawan Forum kota. id)
Jalan Rusak, Janji yang Terkubur Lumpur Di Kabupaten Antah Berantah.
Salah satu janji terbesar yang disampaikan saat kampanye adalah perbaikan infrastruktur jalan. Bupati berjanji akan menghubungkan seluruh desa dengan jalan beraspal yang baik, agar hasil bumi warga mudah diangkut ke pasar. Kenyataannya, hingga kini banyak ruas jalan utama di wilayah pelosok masih berlubang-lubang dan rusak parah. Saat musim hujan, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur yang sulit dilewati kendaraan.
Pak Rian, seorang petani di Kecamatan antah berantah, mengaku sudah tak lagi berharap. “Dulu saya percaya sepenuhnya, saya malah ikut mengajak tetangga memilih beliau karena janjinya mau bikin jalan. Sekarang? Setiap hari kami susah payah bawa panen. Mobil pengangkut enggan masuk karena takut rusak. Kerugian kami bertambah terus, tapi janji itu tak pernah jadi kenyataan,” keluhnya dengan nada kecewa.
Pihak pemkab sering beralasan soal keterbatasan anggaran atau proses administrasi yang rumit. Namun bagi warga, alasan itu terdengar basi. “Kalau anggaran kurang, kenapa dulu berjanji sebesar itu? Kami bukan minta kemewahan, kami cuma minta apa yang sudah diucapkan sendiri oleh pemimpin kami,” tambahnya.
Penghargaan Berderet, Rakyat Bertanya
Hal yang semakin membuat masyarakat merasa kecewa adalah saat melihat Bupati sering menerima berbagai penghargaan, piala, dan gelar kehormatan atas nama keberhasilan pembangunan daerah. Di ruang kerjanya, rak penuh dengan penghargaan dari berbagai lembaga, mulai dari pelayanan publik hingga pembangunan daerah.
“Sering kami lihat berita beliau dapat penghargaan, piala besar, dipuji-puji. Kami bertanya-tanya, prestasi apa yang sesungguhnya diraih? Kalau prestasi itu ada, kenapa kami tidak merasakannya? Apakah penghargaan itu dibeli dengan laporan yang bagus saja, tapi nyatanya kami masih kesusahan?” tanya seorang warga dengan nada sinis.
Bagi masyarakat, penghargaan itu kini terasa ironis. Menurut mereka, penghargaan yang sesungguhnya bagi seorang pemimpin adalah senyum warga yang sejahtera, jalan yang mulus, air yang mengalir, dan anak-anak yang pintar. Bukan piala yang berkilau, jika di balik itu masih banyak rakyat yang mengeluh dan menanggung beban akibat janji yang tak ditepati.
Kepercayaan yang Terkikis
Kekecewaan ini perlahan mengikis habis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah. Warga mulai merasa bahwa janji politik hanyalah alat untuk meraih suara, bukan niat tulus untuk membangun.
“Kami tidak minta hal yang sulit. Kami cuma minta ditepati apa yang sudah diucapkan. Kalau tidak bisa, jangan berjanji setinggi langit. Kami malu, kami yang memilih beliau, tapi kami yang akhirnya menderita karena lupa janji itu,” tegas salah satu tokoh masyarakat.
Hingga saat ini, warga masih menunggu. Namun bukan lagi menunggu keajaiban, melainkan menunggu apakah sisa masa jabatan masih bisa dimanfaatkan untuk sekadar menepati sedikit saja dari ribuan janji yang pernah terucap. Atau, apakah semua itu akan terus menjadi kenangan pahit: janji manis yang hanya hidup sesaat di panggung kampanye, lalu mati begitu saja setelah kursi kekuasaan diduduki.
Masyarakat berharap, di sisa waktu yang ada, pemimpin sadar bahwa kekuasaan dan penghargaan bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah untuk menyejahterakan. Sebab pada akhirnya, penilaian paling jujur bukan datang dari piala atau lembaga pemberi penghargaan, melainkan dari hati dan mulut rakyatnya sendiri.












