Medco (MEDC) Gagal Menemukan Potensi Hidrokarbon di Sumur Barramundi

Berita85 Dilihat
banner 468x60

.CO.ID – JAKARTA. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melaporkan telah menghabiskan dana sekitarUS$8,9 juta atau setara dengan Rp146,5 miliar (asumsi kurs US$ 1 = Rp 16.460) untuk melakukaneksplorasi lanjutan diSumur Barramundi, di blokBeluga, Natuna Barat.

Direktur danKepala Eksekutif AdministrasiMedco Energi Internasional, Amri Siahaan menyebut pendanaan ini masuk dalam biayalubang keringatau eksplorasi yangtidak menghasilkan minyak atau gas.

banner 525x280

Perseroan juga mencatat biayalubang keringsebesar 8,9 juta dolar AS dari biaya eksplorasi sumurBarramundi,di Beluga, Natuna,” kata Amri dalamacara Public Expose Live, Rabu (10/9/2025).

Biayalubang keringungkap Amri memiliki sumbangan padapenurunan laba bersih perusahaanpada semester I-2025. Selainlubang kering,Koreksi laba juga terjadi karena adanya harga minyak yang sedang volatil.

Sebelumnya, dalam keterbukaan informasi BEI, Rabu (9/7/2025), Medco telah menyiapkan dana eksplorasi kepada tiga entitas anak usaha, masing-masing untuk kegiatan di area West Bangkanai sebesar US$ 230 ribu, Sumur Barramundi US$ 12,5 juta, wilayah kerja Corridor senilai US$ 36,65 juta, serta area Dayung-2B dan Dayung-5B sebesar US$ 18,35 juta.

Khusus Beluga, Medco melakukan aktivitas pengeboran sumur eksplorasi di wilayah Sumur Barramundi, yang telah mencapai kedalaman total (TD) 4.314 ftmd pada 1 Juli 2025.

Namun, hasil pengeboran tidak menunjukkan adanya indikasi hidrokarbon (HC), sehingga diputuskan untuk dilakukan prosesPasang dan Tinggalkan(P&A). Rig telah meninggalkan lokasi pada 10 Juli lalu.

Koreksi laba perusahaan juga berasal dari kerja sama Medco denganAmman Mineral International (AMMN), yang menurutAmrimencatatkan kerugian bersih sebesar 31,1 juta dolar AS sehingga memengaruhi kinerja Medco pada semester pertama tahun ini.

Yang perlu Anda ketahui, MEDC telah menjalin kerja sama dengan AMMN melaluiperusahaan patungan (JV) untukpengembangan dan operasi tambang tembaga dan emas yang terletak di Pulau Sumbawa, NTB.

“Penurunan di AMMN ini disebabkan oleh keterlambatan prosespengoperasianlelehkandan fasilitas pemurnian logam mulia, tetapi juga karena dimulainya fase ke-8,” kata Amri.

Fase 8 yang dimaksud adalah tahap transisi strategis yang dimulai pada 2025 untuk memperpanjang usia tambang hingga 2030 dengan cadangan sekitar 460 juta ton mineral, ditandai oleh pengupasan batuan penutup dan penambangan awal di area pit dengan kadar logam yang lebih rendah, serta akan berlanjut ke bagian tengah dan dalam untuk mencapai bijih dengan kadar yang lebih tinggi.

“Jadi di Amman itu dimulainya fase ke-8. Karena fase ke-8 baru mulai, tentunya kami belum bisa masuk ke dalam produksi,” jelas dia.

Sementara itu, sepanjang semester pertama tahun ini, Medco mencatat penurunan laba bersih sebesar 81,5% menjadi 37 juta dolar AS atau sekitar 608,88 miliar rupiah (asumsi kurs 16.456 rupiah), jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 201 juta dolar AS.

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *