Perbarui Tol Getaci Agustus 2025: Sawah Jadi Kampung Miliarder di Talagasari Garut

Nasional270 Dilihat
banner 468x60

– Pembaruan Tol Getaci terkini pada Agustus 2025. Akibat proyek jalan tol yang akan menjadi yang terpanjang di Indonesia, muncul kampung-kampung baru yang juga dikenal sebagai kampung miliarder. Lahan yang sebelumnya berupa persawahan kini berubah menjadi permukiman baru dengan bangunan-bangunan rumah yang masih terlihat baru.

Seperti yang terjadi di Desa Talagasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, lahan persawahan yang luas kini berubah fungsi menjadi permukiman warga yang direlokasi karena lahannya terkena proyek Tol Getaci.

banner 525x280

Namun sebaliknya, karena pembangunan jalan tol Getaci masih belum menemui kejelasan, sementara pembayaran kompensasi telah dilakukan, maka muncul pula desa-desa yang ditinggalkan oleh penduduknya.

Seperti yang diketahui, hingga kini pembayaran kompensasi proyek jalan tol ini masih berfokus pada Segmen Gedebage (Kota Bandung) hingga Kecamatan Banyuresmi (Kabupaten Garut), sesuai dengan penentuan lokasi (penlok) yang telah dikeluarkan oleh Pemprov Jabar.

Lahan yang terkena dampak di bagian ini terdapat di 45 desa atau kelurahan, termasuk satu kelurahan di Gedebage (kota Bandung), 27 desa di Kabupaten Bandung, dan 17 desa di wilayah utara Kabupaten Garut.

Kampung Miliarder Baru

Mengutip dari video YouTube RAF Media, menampilkan suasana kampung baru yang sebagian besar dihuni oleh warga yang lahannya tergusur oleh proyek Tol Getaci di Desa Talagasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut.

Saat memasuki gerbang Kampung Pataruman, terdapat dua gapura sederhana yang menjadi tanda batas wilayah kampung tersebut. Dari gapura sederhana itu, terlihat bangunan rumah mewah berlantai dua yang berdiri tegak. Proses pembangunan hanya sampai pada bagian halaman yang masih berumput dan belum dikelilingi pagar.

Di seberang jalan desa, terdapat sebuah rumah yang cukup luas dengan pagar yang panjang dan terlihat masih baru serta sudah ditempati.

Sebelumnya, posisi kedua bangunan rumah baru tersebut berupa lahan persawahan. Namun kini sebagian dari wilayah tersebut telah berubah menjadi permukiman baru yang juga dikenal sebagai kampung miliarder, karena berdirinya bangunan-bangunan baru yang dihuni oleh warga Desa Talagasari yang lahannya tergusur oleh proyek Tol Getaci.

Dalam keterangannya juga disampaikan bahwa Kampung Pataruman memang sebelumnya telah disiapkan sebagai lokasi relokasi bagi warga Desa Talagasari yang lahan mereka terkena dampak dari proyek jalan tol tersebut.

Saat memasuki jalur sempit tersebut, terlihat bangunan-bangunan rumah yang semakin banyak. Beberapa di antaranya telah ditempati, tetapi ada juga yang tampak belum ditempati dan sebagian lainnya masih dalam proses pembangunan.

Sementara itu, berdasarkan laporan dari kanal YouTube Sawah Ndeso, pembayaran uang pengganti proyek Tol Getaci di Desa Talagasari telah dilakukan pada 26-28 Juni 2024, termasuk di Kampung Lunjuk Girang.

Salah satu kompensasi terbesar di Desa Talagasari mencapai Rp 16 miliar untuk lahan pertanian yang luas di sebelah Jalan Raya Bandung-Garut. Pemilik lahan lainnya, seperti Haji Sobarna, saat itu mendapatkan uang pengganti sekitar Rp 5,4 miliar sebagai ganti lahan sawah seluas sekitar 6000 meter persegi.

Membuat kedua warga tersebut menjadi miliarder baru berkat pembayaran kompensasi atas tanah mereka yang terkena penggusuran.

Jumlah pembayaran UGR di Desa Talagasari pada masa itu berkisar antara yang terkecil sebesar Rp 400.000 hingga Rp 700.000 dan yang terbesar mencapai Rp 16 miliar.

Dampak dari pembangunan Tol Getaci tidak hanya menghasilkan kampung-kampung baru, tetapi juga menyebabkan munculnya kampung-kampung yang sepi dan hancur, yang suasana malam harinya sangat menakutkan serta sama sekali tidak memiliki penerangan.

Itu juga yang terjadi di Desa Talagasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, khususnya Kampung Lunjuk Girang, yang kini seolah hanya tinggal kenangan dan sejarah. Pembebasan lahan untuk proyek Tol Getaci telah mengubah kampung ini menjadi seperti kampung mati karena ditinggalkan oleh penduduknya.

Desa ini berada di tepi Jalan Raya Bandung-Garut, Kecamatan Kadungora, yaitu di seberang rumah makan Mergosari, Desa Talagasari. Saat memasuki Kampung Lunjuk Girang, terlihat bangunan besar bekas pabrik es batu yang kini sepi dan tidak lagi beroperasi.

Di seberangnya terdapat sisa bangunan rumah makan dua lantai yang tampak memudar dan sebagian kusen sudah hilang. Ketika memasuki perkampungan yang dulu ramai penduduk, kini sunyi tanpa tawa dan canda. Yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan tembok tanpa atap dan kusen.

Saat malam tiba, desa itu menjadi gelap dan hanya terang oleh lampu jalan yang berada di Jalan Raya Bandung-Garut.

Mungkin sebagian warga yang telah menerima uang kompensasi pindah dan membangun rumah baru di Desa Pataruman.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *