FORUMKOTA.ID||SUMBA TIMUR-Babak baru perjalanan politik sekaligus pengabdian masyarakat di Sumba Timur resmi terbuka. Umbu Pajaru Lombu, sosok yang dikenal luas sebagai akademisi, aktivis hukum, dan pembela hak-hak masyarakat adat, secara sah mengukuhkan dirinya sebagai kader Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Penyambutan simbolis sekaligus penegasan komitmen itu berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan dalam pertemuan silaturahmi di kediaman Umbu Pajaru Lombu di wilayah Maubokul, Sabtu (6/6/2026).
Agenda strategis ini dihadiri langsung oleh Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Sumba Timur didampingi jajaran pengurus dan anggota Fraksi Hanura di DPRD Sumba Timur. Pertemuan yang digelar sederhana namun sarat makna tersebut, bukan sekadar menandai perpindahan afiliasi politik, melainkan menjadi momentum penting bagi Hanura untuk memperkuat fondasi partai dalam menghadirkan politik yang membumi, transparan, dan sepenuhnya berpihak pada kepentingan masyarakat akar rumput.
Dalam pernyataannya, Ketua DPC Hanura Sumba Timur menegaskan bahwa keputusan partai untuk merangkul Umbu Pajaru Lombu didasari oleh pertimbangan mendalam, jauh melampaui sekadar pencarian figur populer atau kekuatan elektoral semata. Bagi Hanura, sosok Umbu Pajaru mewakili nilai-nilai perjuangan yang sejati dan dibutuhkan dalam dunia politik saat ini.
“Kami tidak sedang memburu nama besar atau sosok yang hanya bersinar di permukaan karena pencitraan. Kami mencari pemimpin yang memahami denyut nadi rakyat, yang paham betul apa yang dirasakan dan dibutuhkan masyarakat di kampung-kampung,” ujar Ketua DPC Hanura dengan tegas.
Ia menambahkan, Umbu Pajaru Lombu adalah putra asli daerah yang tumbuh dan berkembang bersama masyarakat Sumba Timur. Ia adalah saksi hidup sekaligus pelaku utama dalam menjawab berbagai persoalan mendasar yang dihadapi warga: mulai dari keterbatasan akses air bersih, sengketa tanah ulayat yang rumit, hingga kesulitan warga kecil mendapatkan akses keadilan dan perlindungan hukum.
“Beliau adalah sosok yang sudah teruji. Selama bertahun-tahun, di sela kesibukannya sebagai dosen hukum di Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina) Sumba dan sebagai Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sumba Timur, beliau konsisten mendampingi masyarakat. Di mana ada persoalan hukum atau ancaman terhadap hak adat, di situlah beliau hadir. Komitmen inilah yang kami butuhkan untuk memperkuat barisan Hanura,” lanjutnya.
Kehadiran Umbu Pajaru Lombu di tengah masyarakat memang bukan sekadar wacana. Di luar tugas utamanya sebagai pengajar di ruang kuliah, ia dikenal sebagai aktivis yang tidak kenal lelah turun langsung ke lapangan. Ia menjadi rujukan utama bagi masyarakat dalam menangani sengketa tanah, memberikan edukasi hukum agar warga paham hak dan kewajibannya, hingga melakukan advokasi bagi kelompok-kelompok rentan yang kerap terpinggirkan dalam proses pembangunan.
Bagi warga Sumba Timur, nama Umbu Pajaru bukan sekadar gelar akademisi, melainkan simbol kepercayaan dan harapan. Ia hadir bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri yang selalu bersedia mendengar keluh kesah dan mencari solusi bersama.
“Ciri khas beliau adalah kesederhanaan dan kedekatan. Beliau tidak pernah merasa lebih tinggi dari masyarakat. Justru karena kapasitas ilmunya, ia merasa punya tanggung jawab lebih untuk mengabdi. Inilah karakter politik yang kami inginkan: hadir, mendengar, dan menyelesaikan masalah,” ungkap Ketua DPC Hanura.
Langkah bergabungnya Umbu Pajaru pun langsung mendapatkan sambutan positif dan antusiasme tinggi dari berbagai elemen masyarakat. Banyak warga menilai, kehadirannya di Hanura adalah jembatan emas agar suara-suara yang selama ini sering terabaikan suara masyarakat desa, komunitas adat, petani, nelayan, hingga kaum perempuan dapat masuk dan diperjuangkan secara serius di ruang-ruang pengambilan kebijakan daerah.
Sementara itu, perwakilan Fraksi Hanura DPRD Sumba Timur melihat langkah ini sebagai upaya strategis untuk memperluas ruang gerak perjuangan rakyat. Selama ini, Umbu Pajaru berjuang lewat jalur advokasi dan pendampingan. Kini, dengan wadah politik, perjuangan itu bisa diarahkan menjadi kebijakan publik yang berdampak lebih luas dan berkelanjutan.
“Selama puluhan tahun, Pak Umbu sudah membuktikan dirinya sebagai pendengar dan pembela yang setia bagi rakyat. Kini, dengan bergabung di Hanura, kami ingin mengubah apa yang selama ini hanya berupa pendampingan, menjadi kebijakan daerah yang nyata. Aspirasi yang disuarakan warga akan kami perjuangkan menjadi aturan, program, dan anggaran yang berpihak,” tegas ketua Fraksi Hanura.
Hanura Sumba Timur menempatkan kehadiran Umbu Pajaru Lombu sebagai energi baru yang menyegarkan wajah politik daerah. Ia dianggap membawa semangat politik yang “membumi” politik yang tidak lepas dari akar budaya, nilai keadilan sosial, dan semangat pelayanan publik.
Menanggapi hal itu, Umbu Pajaru Lombu sendiri menegaskan bahwa keputusannya masuk ke dunia politik tidak mengubah tujuan hidupnya. Bagi dirinya, masuk ke Hanura adalah cara lain untuk meneruskan dan memperkuat apa yang sudah diperjuangkan selama ini.
Latar belakangnya sebagai akademisi, pegiat adat, dan aktivis hukum, katanya, akan menjadi modal utama untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan riil masyarakat. Ia berjanji akan menjaga amanah dan terus menjadi suara bagi mereka yang selama ini suaranya sulit terdengar.
“Perjuangan saya bersama masyarakat tidak berubah arah, hanya wadahnya yang saya perluas. Bagi saya, politik bukanlah alat kekuasaan atau pencitraan. Politik adalah sarana pengabdian.
Tugas saya ke depan adalah memastikan nilai-nilai keadilan ditegakkan, hak-hak masyarakat adat dilindungi, dan pembangunan di Sumba Timur benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat banyak,” tegas Umbu Pajaru Lombu dengan penuh keyakinan.
Dengan bergabungnya sosok yang memiliki integritas dan rekam jejak pengabdian yang tak terbantahkan ini, Hanura Sumba Timur kini kian optimis.
Partai berasas Hati Nurani Rakyat itu meyakini, langkah ini akan semakin memperkokoh konsolidasi politik mereka, sekaligus menjawab kerinduan masyarakat akan pemimpin yang tidak hanya pandai bicara, tetapi terbukti bekerja dan hidup di tengah rakyat.
