,JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa tidak ada kendala dalam ekspor konsentrat PT Freeport Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikannya setelah menghadiri pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu (26/11/2025).
Pernyataan tersebut merespons informasi mengenai pelonggaran ekspor Freeport yang sebelumnya dikaitkan dengan kontraksi ekonomi di Provinsi Papua Tengah. Bahlil menekankan bahwa seluruh aktivitas ekspor berjalan lancar tanpa ada penundaan.
“Saya harus menyatakan bahwa untuk ekspor konsentrat Freeport, tidak ada yang terhambat,” tegas Bahlil.
Ia memastikan seluruh proses ekspor telah melewati sistem yang berlaku. “Semuanya telah selesai dan sekarang waktunya sudah usai. Jadi tidak ada yang ditunda-tunda,” tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan bahwa perekonomian Papua Tengah mengalami penurunan hingga 8%. Salah satu penyebabnya adalah gangguan dalam produksi Freeport akibat kejadian smelter yang terbakar dan longsoran yang menyebabkan penurunan kemampuan produksi.
Menurut Tito, data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa perekonomian Papua Tengah, khususnya wilayah yang meliputi operasi Freeport, mengalami penurunan sebesar 4,74% secarayear on yearpada kuartal ketiga tahun 2025. Hal tersebut ia sampaikan dalam rapat terbatas mengenai perkembangan inflasi daerah, pertumbuhan ekonomi daerah, serta realisasi anggaran pemerintah daerah.
Ia menambahkan, gangguan produksi Freeport terjadi setelah longsoran di kawasan Grasberg Block Cave (GBC), Papua Tengah, yang menyebabkan penurunan produksi perusahaan sekitar 70%. Kondisi ini juga berdampak pada penjualan tembaga dan emas Freeport.
Di sisi lain, Tito menyampaikan bahwa inflasi nasional tetap terkendali. Inflasi tahunan berada pada tingkat 2,86 persen, sedangkan inflasi sejak awal tahun mencapai 2,1 persen. Komoditas pangan bahkan turut berkontribusi pada deflasi di beberapa daerah. Harga beras di berbagai wilayah dilaporkan mengalami penurunan meskipun tidak merata.
Namun, beberapa komoditas seperti bawang merah, cabai, dan telur ayam mengalami kenaikan harga. Tito menyebut kenaikan harga emas, kondisi geopolitik global, serta peristiwa de-dollarisasi sebagai faktor tambahan yang memicu inflasi.













