Efek Stimulus Ekonomi Terbatas, Target 5,2% Hanya Harapan?

Forum Kota0 Dilihat
banner 468x60

, JAKARTA — Pemerintah kembali mengeluarkan paket kebijakan ekonomi guna meningkatkan laju pertumbuhan pada kuartal IV/2025. Namun, pemberian stimulus di akhir tahun ini dinilai hanya memberikan dampak terbatas terhadap pencapaian target pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,2%.

Dalam catatan Bisnis, pemerintah setidaknya harus mencapai pertumbuhan sebesar 5,7% pada kuartal IV/2025 agar target tahunan sebesar 5,2% dapat terpenuhi. Masalahnya, selama sepuluh tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi di kuartal IV/2025 hampir tidak pernah mencapai angka 5,6%.

banner 336x280

Apalagi dengan situasi ekonomi pada tahun 2025, yang selain bergantung pada dukungan dari stimulus pemerintah, hampir tidak ada momentum politik atau ekonomi besar yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,6% di kuartal IV/2025.

Rata-rata pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat antara tahun 2015 hingga 2024 berada di kisaran 4,3%. Angka rata-rata ini mempertimbangkan pencapaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2020 yang mengalami penurunan sebesar 2,19% akibat wabah virus Corona.

Sementara pencapaian tertinggi pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV dalam 10 tahun terakhir terjadi pada tahun 2017. Pada masa itu, angka pertumbuhannya mencapai 5,19%. Menariknya, kuartal IV tahun 2018 dan 2023 yang didukung oleh booming komoditas, pertumbuhannya masing-masing hanya sebesar 5,18% dan 5,04%.

Artinya, jika melihat tren tersebut, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5% atau 5,77% pada kuartal IV hampir tidak pernah terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. Apalagi dengan fakta bahwa terjadi penurunan laju konsumsi rumah tangga pada kuartal III/2025 sebesar 4,89%.

Selain itu, kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyalurkan dana lebih dari Rp200 triliun ke sektor perbankan tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan penyerapan kredit perbankan. Pada Oktober 2025, atau setelah lebih dari sebulan penerapan kebijakan tersebut, pertumbuhan kredit perbankan berada pada angka 7,36%, yang lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada September 2025 yang mencapai 7,7%.

Bank Indonesia (BI) memperhatikan bahwa kalangan pengusaha masih kurang memadaiprudent melakukan perluasan, mereka tetap membatasi perluasan. Di sisi lain, perlambatan pertumbuhan kredit perbankan memperkuat bahwa masalah utama saat ini bukanlah kelangkaan likuiditas, melainkan permintaan kredit yang masih rendah.

Optimisme Airlangga 

Selanjutnya, pemerintah memiliki keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2025 bisa mencapai maksimal 5,6%, didorong oleh besarnya stimulus fiskal, bantuan sosial, serta meningkatnya pengeluaran pemerintah menjelang akhir tahun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa berbagai insentif yang diberikan pemerintah diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Airlangga memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2025 akan mencapai antara 5,4% hingga 5,6%, lebih tinggi dibandingkan capaian kuartal sebelumnya.

“Kami yakin pertumbuhannya berkisar antara 5,4%–5,6%,” tegas Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Rabu (26/11/2025).

Ia menyampaikan bahwa aliran stimulus tersebut mampu memberikan dorongan signifikan terhadap perputaran ekonomi. Ia memberikan contoh, salah satu sumber perputaran uang yang besar berasal dari pemberian bantuan sosial (bansos) di akhir tahun. “Dari bansos saja kita menyalurkan lebih dari Rp30 triliun. Program diskon juga bisa memberikan tambahan perputaran sekitar Rp30 triliun,” kata Airlangga.

Selain bantuan sosial, pemerintah juga menawarkan potongan harga pada tarif transportasi. Potongan ini berlaku untuk semua jenis moda transportasi, mulai dari kereta api, angkutan laut, penyeberangan, angkutan udara, hingga kendaraan pribadi melalui pengurangan biaya tol.

Selanjutnya, pemerintah sedang mempersiapkan kredit massal di sektor perumahan guna meningkatkan permintaan dalam negeri. Airlangga menyebutkan bahwa target kredit usaha rakyat (KUR) perumahan pada bulan Desember mencapai 50.000 plafon pembiayaan, sehingga mampu mendorong perputaran ekonomi yang signifikan. “Jika target 50.000 tersebut dikali Rp5 miliar saja, angkanya sangat besar,” ujarnya.

Airlangga menambahkan, pengeluaran kementerian akan menjadi mesin utama pertumbuhan pada kuartal IV/2025. Hampir semua kementerian dengan anggaran besar telah melaporkan rencana penyerapan anggaran di atas 90%, sehingga kontribusi belanja pemerintah terhadap PDB kuartal IV/2025 diperkirakan lebih besar. “Kontribusi dari belanja pemerintah, program-program perlindungan sosial, serta meningkatnya pergerakan masyarakat selama Nataru akan memperkuat kinerja ekonomi,” katanya.

Efek Stimulus Terbatas 

Para ekonom memprediksi bahwa efektivitas stimulus pemerintah pada akhir 2025 akan terbatas, sehingga kesempatan bagi pertumbuhan ekonomi kuartal IV untuk mencapai target maksimal pemerintah sebesar 5,6% cenderung kecil.

Ekonom dari CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa keberhasilan stimulus bergantung pada dua hal utama, yaitu besarnya bantuan yang diberikan dan jumlah penerima, serta tepatnya waktu penyaluran.

Mengacu pada pengalaman tahun 2020, ia mengatakan tindakan pemerintah memberikan stimulus berupa potongan tarif transportasi dan bantuan uang tunai berhasil meningkatkan pertumbuhan di kuartal II/2020 sekitar 5,2%.

Namun, ia meragukan apakah situasi yang sama akan terjadi pada periode yang sama tahun ini. “Diskon tarif transportasi dan bantuan langsung tunai (BLT) di akhir tahun memang mampu meningkatkan konsumsi masyarakat. Namun, berdasarkan pola kuartal II tahun ini, kebijakan tersebut belum cukup kuat untuk mendorong konsumsi rumah tangga melebihi tingkat 5%,” ujar Yusuf saat dihubungi pada Rabu (26/11/2025).

Yusuf juga memperkirakan kemungkinan bahwa kelompok masyarakat dengan penghasilan menengah akan mengurungkan niat untuk berbelanja. Hal ini terutama disebabkan oleh fakta bahwa mereka lebih mengutamakan pengeluaran untuk masa libur Lebaran pada kuartal I/2026 yang akan datang.

Faktor lain yang bisa mengurangi efektivitas stimulus adalah jumlah hari libur nasional yang lebih sedikit di kuartal IV/2025 dibandingkan kuartal II/2025. Kondisi ini, menurut Yusuf, dapat menghambat peningkatan mobilitas dan pengeluaran meskipun pemerintah memberikan diskon tarif transportasi selama perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang ada, Yusuf menganggap bahwa stimulus pemerintah tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di wilayah yang positif. Namun, kemungkinan untuk mencapai target pertumbuhan sebesar 5,4%–5,6% dinilai cukup kecil.

“Dengan adanya insentif yang tersedia dan dorongan pengeluaran pemerintah, pertumbuhan ekonomi kuartal IV masih memiliki kemungkinan berada di kisaran 5,2%,” katanya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *