MATARAM,– Fathul Mu’in (41) berjalan menyusuri ubin disabilitas di halaman Panti Asuhan Tuna Netra Al Mahsyar, Kota Mataram.
Dia kemudian berbelok ke arah asrama putra dan menemui sejumlah anak panti asuhan yang sedang bersenda gurau di teras asrama.
“Di sini asrama putranya,” kata Fathul Mu’in sambil memegang tangan salah satu anak panti.
Fathul mengatakan, saat ini terdapat sekitar 35 anak disabilitas netra yang tinggal di panti asuhan tersebut.
Fathul adalah seorang tuna netra yang merupakan lulusan panti asuhan tuna netra Al Mahsyar dan mengajar di SLB A YPTN Mataram.
“Saya dari kecil di sini. Saya masuk ke SLB atau yayasan tuna netra Al Mahsyar ini tahun 1993,” kata Fathul.
Di sini juga, Fathul tinggal dan bersekolah di sekolah luar biasa hingga jenjang SMA.
Saat ini Fathul diperbantukan untuk mengajar di SLB A YPTN Mataram, sekolah khusus tuna netra yang berada di lingkungan Panti Asuhan Al Mahsyar.
“Saya kebetulan menjadi wali kelas 1 SD, siswa saya ada dua orang,” kata Fathul.
Setiap hari dia mengajar dengan memperkenalkan huruf Braille kepada anak-anak disabilitas netra.
Selain mengajar Braille, setelah sekolah, Fathul juga mengajar mengaji menggunakan Al Quran Braille di panti asuhan tersebut.
“Meski tidak seberapa, yang penting saya bisa berbagi ilmu,” kata Fathul.
Awal mula mengajar Braille
Fathul menceritakan, awal mula mengajar di sekolah luar biasa pada tahun 2009.
Saat itu, Fathul ditawari oleh pimpinan Yayasan Al Mahsyar untuk mengajar Braille kepada anak-anak kelas 1 SD.
“Yang memegang adik-adik yang mulai dari nol yang belajar Braille itu belum ada, saya ditawari,” kata Fathul.
Saat itu, banyak dari dewan guru yang menolak karena Fathul hanya lulusan SMA.
Fathul menceritakan, pemimpin Yayasan saat itu meyakinkan dewan guru untuk memberikan kesempatan mengajar selama beberapa bulan.
“Akhirnya beberapa dari teman-teman naik kelas dan ternyata berhasil, itu yang membuatnya terus sampai sekarang,” kenang Fathul.
Fathul mengatakan, sudah lama memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah, namun masih terkendala biaya.
Selain itu, dia merasa, kesempatan disabilitas untuk bisa mendapatkan beasiswa agar kuliah di universitas masih belum terbuka lebar.
Sekarang, Fathul sedang mencari beasiswa untuk bisa melanjutkan kuliah S1.
Dia berharap bisa mendapatkan beasiswa di jurusan pendidikan dan rencananya mendaftar di Universitas Terbuka (UT).
Sejak 1979
Panti Asuhan Tuna Netra Al Mahsyar yang terletak di Jalan Peternakan, Kota Mataram, didirikan sejak tahun 1979.
Panti Asuhan tuna netra ini pertama kali diajukan oleh Abdulah Mahsyar, seorang tuna netra di NTB.
Ia yang pertama kali berpikir agar para tuna netra bisa berkumpul dan mendapatkan pendidikan.
“Dari situ dia mulai mencari para tuna netra untuk disekolahkan,” kata Ahmad Fatoni, Ketua Panti Asuhan Tuna Netra Al Mahsyar.
Saat ini, banyak lulusan panti asuhan tuna netra yang kuliah dan menjadi guru di sejumlah SLB yang tersebar di Lombok.
Beberapa bahkan menjadi hafiz Al-Qur’an dan kuliah di Universitas Negeri Mataram.
Selain mendidik anak-anak disabilitas, panti asuhan juga mengajarkan keterampilan lain seperti memijat dan tata boga.
Menurut Fatoni, keterampilan ini diberikan sebagai bekal bagi mereka agar dapat mandiri setelah meninggalkan panti asuhan.













