AS dan Tiongkok Pertimbangkan Penundaan Kesepakatan Tarif 90 Hari

Nasional118 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA,– Amerika Serikat dan Tiongkok mungkin menunda kesepakatan tarif impor selama 90 hari ke depan.

Sumber yang dikutipReuterspada hari Senin (28/7/2025), menyebut kedua negara sepakat tidak menerapkan tarif baru atau mengambil langkah yang memperburuk ketegangan dagang.

banner 525x280

Perpanjangan tersebut ditujukan untuk mencegah eskalasi dan memberi waktu persiapan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Pertemuan tersebut direncanakan akan berlangsung pada akhir Oktober atau awal November 2025.

White House belum memberikan respons terkait rencana ini. Jika penundaan tidak disetujui, Tiongkok harus menghadapi tenggat waktu negosiasi seperti semula, yaitu 12 Agustus 2025.

Tanpa kesepakatan, rantai pasok global terancam terguncang akibat bea masuk yang bisa melebihi 100 persen antara kedua negara.

Pemerintah AS dan Tiongkok akan bertemu di Stockholm, Swedia, minggu ini. AS diwakili oleh Menteri Keuangan Scott Bessent. Sementara dari Tiongkok hadir Wakil Perdana Menteri He Lifeng.

Bessent sebelumnya menyatakan keinginan untuk memperpanjang batas waktu dari 12 Agustus demi mencegah kebuntuan.

Ia juga mengatakan akan membahas strategi rebalancing ekonomi Tiongkok dari ekspor menuju konsumsi domestik.

Menurutnya, langkah tersebut dapat membantu mengurangi krisis properti dan memperkuat konsumsi rumah tangga melalui perlindungan sosial.

Namun Tiongkok diperkirakan akan menuntut pengurangan tarif ganda dari AS sebesar 55 persen untuk berbagai produk. Beijing juga menginginkan pelonggaran ekspor teknologi tinggi dari AS.

Tiongkok berargumen bahwa ekspor teknologi bisa mengurangi defisit perdagangan AS yang mencapai 295,5 miliar dolar AS pada 2024.

Presiden Trump menyatakan pada Minggu (27/7/2025) bahwa kesepakatan dengan Tiongkok hampir tercapai.

“Kita sudah sangat dekat dengan kesepakatan dengan Tiongkok. Kita benar-benar hampir mencapai kesepakatan dengan Tiongkok, tetapi kita lihat saja nanti,” kata Trump di Gedung Putih.

Sebelumnya, Amerika Serikat menerapkan tarif tinggi untuk produk asal Tiongkok. Tarif mencapai 145 persen, dengan total bea masuk kumulatif hingga 245 persen. Sebagai balasan, Tiongkok mengenakan tarif 125 persen untuk produk Amerika Serikat.

 

Perjanjian Sebelumnya

Pada Mei 2025, AS dan Tiongkok sepakat untuk menurunkan tarif impor masing-masing sebesar 115 persen. Kesepakatan ini dicapai dalam negosiasi di Jenewa, Swiss, 10–11 Mei 2025.

Dalam pertemuan itu, Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer berdialog dengan He Lifeng. Pernyataan resmi Gedung Putih menyebut kedua negara sepakat menetapkan tarif 10 persen selama periode jeda.

“Kedua pihak akan mengambil tindakan ini paling lambat tanggal 14 Mei 2025. Kesepakatan perdagangan ini merupakan kemenangan bagi AS yang menunjukkan keahlian Presiden Trump yang tak tertandingi dalam mengamankan kesepakatan yang menguntungkan rakyat Amerika,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Tiongkok juga akan menghapus tarif balasan sejak 4 April 2025, dan menangguhkan sanksi non-tarif yang berlaku sejak 2 April. Tarif awal 34 persen dari Tiongkok juga ditangguhkan selama 90 hari, dan diganti dengan tarif 10 persen.

Sementara itu, AS mencabut tarif tambahan yang dikenakan pada 8 dan 9 April 2025. Namun tetap mempertahankan semua tarif sebelum 2 April, termasuk yang terkait keadaan darurat nasional fentanyl.

AS juga menangguhkan tarif balik 34 persen yang berlaku sejak 2 April, tetapi tetap memberlakukan tarif 10 persen selama jeda 90 hari.

Kantor Putih menyebut tarif 10 persen bisa memperkuat produksi dalam negeri dan rantai pasok, serta melindungi tenaga kerja AS.

Selain masalah tarif, kedua negara juga sepakat untuk memperketat pengawasan obat fentanyl dan bahan baku dari Tiongkok agar tidak masuk ke pasar gelap di Amerika Utara.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *