Forum Kota – Meskipun telah memiliki status sebagai anak yang berkonflik dengan hukum, F, pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta, tidak terkait dengan jaringan teroris. Polda Metro Jaya bersama Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror memastikan hal tersebut setelah melakukan penyelidikan selama sekitar 5 hari sejak ledakan terjadi pada Jumat pekan lalu (7/11).
Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri mengungkapkan bahwa ledakan di masjid SMAN 72 Jakarta yang terletak di Komplek Kodamar TNI AL, Kelapa Gading, Jakarta Utara (Jakut) memang terjadi saat ibadah salat Jumat sedang berlangsung. Akibatnya sangat parah, ledakan yang terekam terjadi pada pukul 12.02 WIB tersebut menyebabkan banyak korban luka.
“Berikut hasil penyelidikan sementara, anak yang bersengketa dengan hukum atau ABH yang terlibat dalam ledakan tersebut diketahui adalah seorang siswa SMA aktif yang bertindak sendiri dan tidak terkait dengan jaringan teror tertentu,” ujar Asep kepada para jurnalis di Jakarta pada malam Selasa (11/11).
Kesimpulan tersebut diambil setelah Polda Metro Jaya bersama jajaran dan tim dari Mabes Polri melakukan berbagai tahapan penyelidikan dan penyidikan. Proses ini dilakukan secara bersama-sama oleh Densus 88 Antiteror, Puslabfor Mabes Polri, serta Pusdokkes Polri. Tidak hanya jaringan, latar belakang pelaku, dan aspek teknis terkait bom juga telah diteliti lebih lanjut.
“Kami melakukan pengamanan dan pembersihan lokasi kejadian oleh Sat Brimob (Polda Metro Jaya), termasuk menetralisir 3 bom rakitan yang aktif ditemukan di dua titik TKP. Kami juga telah melakukan pemeriksaan terhadap bahan peledak yang digunakan bersama Puslabfor Polri untuk memastikan jenis dan daya ledaknya,” ujar dia.
Tidak berhenti sampai di situ, Puslabfor Mabes Polri bekerja sama dengan Ditreskrimum Polda Metro Jaya dan Satreskrim Polres Metro Jakut telah melakukan penggeledahan di rumah anak yang terlibat dalam konflik hukum tersebut. Selanjutnya, mereka melakukan pemeriksaan terhadap 18 saksi yang terdiri dari keluarga pelaku, guru, serta teman-teman pelaku.
“Beradasarkan informasi yang kami kumpulkan, ABH yang terlibat dalam kasus ledakan ini dikenal sebagai seseorang yang tertutup, jarang berinteraksi dengan orang lain, dan memiliki minat terhadap materi kekerasan serta hal-hal yang ekstrem,” katanya.
Ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta pada pekan lalu mengakibatkan 96 korban terluka. Mayoritas dari mereka mengalami cedera ringan. Namun, beberapa di antaranya mengalami luka parah dan memerlukan tindakan operasi. Pelaku juga termasuk salah satu korban yang mengalami luka berat. Saat ini, ia masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Polri Kramat Jati.














