GAZA, —Dengan tubuh kurus kering yang hanya tinggal tulang, Muhammad Zakariya Ayyoub al-Matouq hanya bisa meringkuk dalam pelukan ibunya yang tak berdaya di sebuah tenda pengungsian di Gaza.
Balita berusia satu tahun itu kini hanya berbobot 6 kilogram—setara dengan bayi berusia tiga bulan—akibat kelaparan parah yang melanda wilayah tersebut.
Sebuah foto menyedihkan yang menunjukkan Matouq berbaring dengan popok dari kantong plastik hitam menggambarkan krisis kemanusiaan yang parah yang menimpa anak-anak di Gaza.
Anak-anak lapar, dunia diam
Matouq adalah salah satu dari hampir 900.000 anak-anak Gaza yang saat ini mengalami kelaparan.
Sebanyak 70.000 di antaranya berada dalam kondisi malnutrisi berat dan terancam meninggal dalam waktu dekat.
Rumah sakit sudah tidak mampu memberikan makanan atau perawatan karena jalur bantuan kemanusiaan sepenuhnya ditutup oleh Israel sejak awal Maret.
“Perang ini tidak hanya menciptakan krisis kemanusiaan. Ia menciptakan pusaran penderitaan manusia,” kata Sigrid Kaag, Koordinator Senior PBB untuk Bantuan Kemanusiaan dan Rekonstruksi Gaza.
Hanya dalam 48 jam terakhir, 12 anak meninggal akibat kelaparan. Jumlah kematian akibat malnutrisi sejak perang dimulai kini telah mencapai 101 orang, 80 di antaranya adalah anak-anak, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas.
Akses bantuan ditutup
PBB menyebut seluruh jalur masuk bantuan ke Gaza telah ditutup sejak 2 Maret.
Akibatnya, aliran makanan, air bersih, susu, dan obat-obatan kini benar-benar hampir tidak ada.
“Kami telah memasuki fase kematian,” kata seorang pejabat Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).
“Segalanya di sekitar warga Gaza saat ini adalah kematian—baik karena bom, serangan udara, atau anak-anak yang perlahan-lahan meninggal karena kelaparan,” tambahnya.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap kondisi tersebut.
“Saya terkejut dengan kecepatan keruntuhan kondisi di Gaza. Penduduknya sangat kekurangan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup,” kata Guterres.
Sementara itu, kantor HAM PBB mencatat 1.054 orang tewas di Gaza saat mencoba mengakses makanan.
Data tersebut berasal dari berbagai sumber tepercaya di lapangan, termasuk tim medis dan organisasi kemanusiaan.
Kecaman dari komunitas internasional
Menyaksikan penderitaan anak-anak seperti Matouq membuat banyak tokoh internasional menyuarakan kemarahan.
Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy, berkata, “Saya merasa seperti masyarakat Inggris, yang lelah dan terluka. Ini bukan kata-kata diplomatik, tapi ketika Anda melihat anak-anak mengulurkan tangan meminta makanan, lalu ditembak dan dibunuh, tentu Inggris harus bersuara.”
Ross Smith dari Program Pangan Dunia menggambarkan situasi ini sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah mereka lihat.
“Krisis kelaparan di Gaza telah mencapai tingkat putus asa yang baru dan mengejutkan,” katanya.











