Polsek Torue Gencar Patroli Malam, Cegah Gangguan Kamtibmas di Parigi Moutong

Berita53 Dilihat
banner 468x60

— Saat sebagian besar penduduk Torue tertidur di rumah, cahaya biru dari kendaraan patroli Polsek Torue menembus kegelapan malam. Dengan langkah mantap dan suara mesin kendaraan dinas yang terus-menerus, empat anggota polisi melintasi jalur utama Trans Sulawesi hingga jalan sempit di Desa Tolai dan Tolai Timur. Di bawah pimpinanAipda I Ketut Yermiajadi, patroli Blue Lighthal itu merupakan bagian dari usaha menjaga keamanan dan memperkuat eksistensi negara di tengah masyarakat.

Patroli malam dimulai pukul 22.45 WITA dan berlangsung hingga melewati tengah malam. Selama perjalanan, petugas tidak hanya melakukan pengawasan, tetapi juga berkomunikasi langsung dengan warga yang masih aktif. Mulai dari sekelompok pemuda di tepi jalan hingga penjaga kafe yang belum tutup, semua menjadi bagian dari percakapan singkat mengenai pentingnya menjaga ketertiban bersama.

banner 336x280

“Terkadang kehadiran polisi saja sudah cukup untuk membuat warga merasa aman,” ujar Aipda Ketut sambil memarkir motornya di kawasan Tolai Barat. “Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa kami berada di sini—siap sedia, bukan hanya ketika sesuatu terjadi, tetapi juga sebelumnya.”

Konsep Blue Light Patrolsendiri mengandalkan prinsip visibilitas serta kehadiran aktif petugas di ruang umum. Lampu biru kendaraan dinas yang menyala terang berfungsi sebagai tanda peringatan sekaligus memberikan rasa aman. Di Torue, kawasan pesisir yang berada di antara perkebunan dan jalan provinsi, pendekatan ini terbukti efektif dalam mengurangi risiko kejahatan di jalan raya.

Selain memastikan keamanan fisik, kegiatan patroli ini juga memiliki makna sosial. Petugas sering berkomunikasi dengan pemuda yang masih berkumpul di luar rumah pada malam hari, bukan dengan cara yang keras, tetapi dengan pendekatan yang meyakinkan. “Kami tidak melarang mereka untuk berkumpul, hanya memberi peringatan agar tidak mengonsumsi minuman beralkohol atau membuat keributan,” kata salah satu anggota patroli.

Bagi warga, kegiatan semacam ini menciptakan perasaan tenang. Seorang pedagang kelontong di Desa Purwosari mengatakan lebih nyaman membuka toko hingga larut malam sejak adanya patroli rutin. “Jika melihat lampu biru melewati, terasa aman,” katanya sambil tersenyum. “Terkadang polisi berhenti sejenak, membeli minuman, sambil berbincang sebentar — itu saja sudah cukup membuat tenang.”

Polsek Torue secara konsisten mengadakan patroli malam sebagai bagian dari program yang terus berlangsung dalam mendukung kegiatan tersebut.Polri Presisi— yang menekankan tanggap cepat, transparansi, dan kehadiran langsung di lapangan. Aipda Ketut menekankan, pendekatan humanis semacam ini penting agar masyarakat merasa menjadi bagian dari sistem keamanan, bukan hanya sebagai objek pengawasan.

Selama pelaksanaan kegiatan, kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat di seluruh rute patroli tetap terjaga dengan baik. Tidak ada laporan mengenai tindak kriminal atau gangguan ketertiban. Namun bagi aparat, keberhasilan tidak diukur dari banyaknya pelaku yang ditangkap, melainkan sejauh mana potensi gangguan bisa dihindari.

Dalam konteks yang lebih menyeluruh, tindakan yang dilakukan oleh Polsek Torue mencerminkan perkembangan baru dalam pendekatan pengamanan di tingkat masyarakat setempat:community policingDi mana polisi tidak hanya berperan sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai mitra sosial yang aktif dalam membangun kepercayaan dengan masyarakat.

Dan ketika pagi tiba, lampu biru itu perlahan menghilang di belokan jalan Trans Sulawesi. Namun pesan yang tersisa bagi warga Torue jelas — keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan hasil dari kerja sama antara polisi dan masyarakat yang saling percaya.***

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *