KORAN-PIKIRAN RAKYAT –Bencana banjir dan tanah longsor mulai muncul di berbagai daerah Jawa Barat yang semakin sering terjadi akibat intensitas hujan yang meningkat. Ribuan penduduk terkena dampak dari bencana ini.
Di wilayah barat Jawa Barat, Sungai Cikarang meluap di beberapa titik di Kabupaten Bekasi. Akibatnya, ribuan penduduk terkena dampak setelah rumah mereka terendam banjir hingga 60 sentimeter.
“Saya tidak bisa pergi kemana-mana, takut kehilangan barang-barang. Jadi memilih tetap berjaga,” ujar Kokom, salah seorang warga yang rumahnya terkena dampak di Desa Sukamanah, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi, Minggu 2 November 2025.
Menurut Kokom, sungai Cikarang yang meluap terjadi sejak Jumat 31 Oktober 2025 malam. Pada saat itu air mulai membanjiri jalan di daerah permukiman mereka. Perlahan namun pasti, ketinggian air semakin bertambah. Puncaknya, air sudah masuk ke dalam rumah warga, pada Sabtu 1 November 2025.
Kokom mengira banjir datang dari hulu sungai. Pasalnya, wilayah Sukatani tidak terkena hujan. “Kalau pun hujan hanya gerimis kecil saja, itu pun tidak lama. Tapi air dari sungai besar, akhirnya tanggul pecah,” katanya.
Ia bersama suaminya memutuskan untuk tinggal di rumahnya guna menjaga keamanan barang-barangnya. Sementara itu, ibunya yang sudah tua dilarikan dengan bantuan petugas bencana.
“Dalam rumah, terdapat kursi untuk orang dewasa. Beberapa orang mengungsi ke perumahan dan musala. Saya memilih tetap berada untuk menjaga barang-barang, karena orang tua telah dievakuasi dari musala kemarin. Tadi pagi ada BPBD,” katanya.
Berdasarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, sebanyak 3.548 jiwa terkena dampak banjir. Sekitar 1.377 keluarga yang tinggal di 1.304 rumah terendam banjir dengan ketinggian yang berbeda-beda.
“Tujuh kecamatan terkena dampak. Dan sudah mulai surut, hanya tersisa beberapa titik genangan,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis.
Hujan lebat disertai angin kencang juga mengguyur Kota Tasikmalaya, Sabtu 1 November 2025. Hujan tersebut menyebabkan beberapa daerah mengalami bencana seperti banjir, genangan air, pohon tumbang, kerusakan rumah serta risiko tanah longsor.
Pemerintah Kota Tasikmalaya menyatakan telah segera bertindak dalam menangani daerah-daerah yang terkena dampak. Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan menyebutkan, cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor utama meningkatnya potensi banjir di wilayahnya.
“Cuaca ekstrem memang terjadi bulan ini. Berbagai upaya telah dilakukan oleh instansi-instansi, mulai dari pembersihan sampah hingga pengaturan beberapa saluran air. Namun, curah hujan yang sangat tinggi tetap menjadi tantangan,” kata Viman, saat diwawancarai di Indihiang, Minggu 2 November 2025.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Tasikmalaya Ucu Anwar Surahman menyampaikan, terdapat 16 kejadian bencana yang tercatat di wilayah yang dikenal sebagai kota resik. “Jenis bencananya beragam, mulai dari rumah roboh, pohon tumbang, hingga banjir yang menutupi jalan dan permukiman warga,” ujar Ucu.
Situasi ini menyebabkan kegiatan masyarakat terganggu. Beberapa petugas BPBD terus melakukan penanganan darurat dan pemantauan di tempat-tempat yang terkena dampak.
Bencana banjir yang menggenangi belasan rumah warga di Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya bukanlah bencana alam biasa. Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al-Ayubi, setelah melakukan inspeksi langsung ke lokasi, menyatakan dengan tegas bahwa aktivitas penambangan pasir di hulu sungai menjadi penyebab utama datangnya air bah.
Banjir yang terjadi akibat pecahnya saluran pembuangan setelah diguyur hujan lebat menyebabkan sepuluh rumah warga terendam parah, dengan satu di antaranya mengalami kerusakan parah. Secara keseluruhan, 14 rumah dan beberapa lahan pertanian terkena dampak, sehingga puluhan warga harus dievakuasi dan membersihkan lumpur yang tebal.
Ditemani jajaran BPBD, Dinas Sumber Daya Air Jawa Barat, BBWS Kementerian PUPR, dan Dinas Pertanian, Wakil Bupati Asep Sopari turun langsung, Sabtu 1 November 2025 untuk mengidentifikasi akar masalah. Ia menekankan bahwa bencana ini melibatkan faktor ekologis yang serius, bukan hanya curah hujan tinggi.
“Sebenarnya ini bukan banjir biasa, melainkan banjir yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan air yang terhambat oleh longsoran tanah. Ketika longsoran tidak mampu menahan volume air, akhirnya air bah meluap ke persawahan dan rumah warga,” ujar Asep Sopari.
Di kawasan Bandung Raya, gerakan tanah dan tanah longsor terjadi di Desa Cintaasih, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat akibat cuaca buruk yang terjadi belakangan ini. Keadaan tersebut membahayakan keselamatan penduduk setempat.
Peristiwa tanah bergerak terjadi di Kampung Pasirsalam, RT 03 RW 08, Desa Cintaasih. Pemantauan “PR” pada hari Minggu, 2 November 2025, menunjukkan adanya retakan sepanjang sekitar 12 meter dan dalam sekitar 2 meter di tepi rumah warga bernama Saud (60) di lokasi tersebut. Retakan ini disertai dengan tanah yang turun sehingga menyebabkan pagar atau tembok rumah Saud ambruk. Selain itu, retakan juga terlihat pada dinding tempat tinggalnya serta lantai keramik yang miring.
Saud menceritakan, pergeseran tanah terjadi pada Jumat 31 Oktober 2025, sekitar pukul 12.00. Saat akan pergi untuk salat Jumat, Saud mengatakan kondisi tanah dan rumahnya masih dalam keadaan baik. Hujan memang turun di lokasi tersebut. “Saat saya kembali dari salat Jumat, kondisinya sudah retak-retak,” katanya kepada “PR” di tempat kejadian, pada siang hari.
Tidak hanya gerakan tanah, longsor juga terjadi di wilayah Desa Cintaasih lainnya, yaitu Kampung Pasirkoneng dan Lamping. Di Pasirkoneng, longsoran tanah menutupi jalan dan teras rumah milik Herni (50). Nuriyah (23), putri Herni, menceritakan, longsor terjadi pada Sabtu 1 November 2025 malam saat hujan deras mengguyur. “Jalan saya jadi tertutup lumpur akibat longsoran,” katanya.
Saat “PR” tiba di lokasi tersebut, pembersihan longsoran sedang berlangsung. Selain jalan, longsoran juga masuk dan menutupi teras rumah tersebut.
Nuriyah juga merasa cemas tentang kemungkinan terjadinya tanah longsor berikutnya. Agar menghindari risiko tersebut, Nuriyah bersama keluarganya memutuskan untuk lari ke rumah kakek neneknya. “PR” juga mengunjungi wilayah Lamping yang kondisinya sama buruknya.
Batu yang berada di atas rumah seorang warga tampak longsor dan menutupi jalan serta sisi rumah warga. Cuaca buruk yang melanda Kabupaten Bandung Barat menyebabkan bencana alam terus terjadi di kawasan tersebut. Sebelumnya, “PR” melaporkan bahwa 14 keluarga harus mengungsi setelah tanah longsor terjadi di wilayah Kampung Gintung, RT 4 RW 7, Desa Cibenda, Kecamatan Cipongkor.
Tanah longsor dan banjir terjadi di Kabupaten Bandung pada akhir Oktober 2025. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Beni Sonjaya, memberikan laporan tentang data tanah longsor dan banjir selama periode tersebut.
Beni mengatakan, lokasi kejadian tanah longsor terjadi pada 31 Oktober dan 1 November 2025. Sebanyak satu rumah yang dihuni oleh enam keluarga terkena dampak tanah longsor di Kampung Sukajadi RT 4 RW 8, Desa Pananjung, Kecamatan Cangkuang pada Jumat sore, 31 Oktober 2025.
Enam rumah yang dihuni 20 warga terkena dampak tanah longsor di tiga dusun, Desa Rancakole, Kecamatan Arjasari. Pada hari yang sama, terjadi juga longsoran di Desa Bandasari, Kecamatan Cangkuang yang mengakibatkan kerusakan pada satu rumah.
Beni Sonjaya mengatakan, beberapa lokasi yang sempat terendam banjir pada Sabtu 1 November 2025 telah surut pada Minggu 2 November 2025. Pada hari Sabtu, permukiman di RW 9 Kampung Cijagra, Desa Bojongsoang, Kecamatan Bojongsoang, tergenang banjir dengan ketinggian 30 hingga 70 sentimeter. Selain itu, pemukiman warga RW 10 Kampung Cijagra, Desa Bojongsoang, terendam air dengan kedalaman 20 hingga 100 sentimeter. Permukiman penduduk di RW 20, Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang juga terendam dengan ketinggian 30 hingga 60 sentimeter.
Genangan juga terlihat di permukiman Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot pada hari Sabtu 1 November 2025. Pada saat itu, ketinggian genangan di wilayah Bojongasih berkisar antara 30 hingga 80 sentimeter.
Bupati Bandung, Dadang Supriatna, melakukan inspeksi ke lokasi yang pernah terkena banjir di kawasan Bojongsoang dan Baleendah, Kabupaten Bandung pada hari Minggu, 2 November 2025. Pada kesempatan tersebut, Dadang Supriatna meminta jajarannya untuk segera mengatasi penyebab banjir, seperti membersihkan atau melakukan normalisasi saluran air. Tindakan ini juga sebagai bentuk respons terhadap imbauan BMKG.
Bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, kami segera mengevaluasi kondisi sistem drainase dan sungai. Kegiatan yang bekerja sama dengan BBWS, agar tindakan penanganannya bersifat permanen,” kata Dadang.
Cabut status
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi secara resmi mencabut status darurat bencana banjir dan tanah longsor di Cisolok dan Cikakak hingga 31 Oktober 2025. Keputusan tersebut tercantum dalam Keputusan Bupati Sukabumi Nomor 300.2.1/Kep.880-BPBD/2025. Status siaga berubah menjadi masa pemulihan selama 60 hari ke depan, mulai 1 November hingga 30 November 2025.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Eki Radiana Rizki, menyatakan bahwa status darurat secara resmi telah berakhir. Oleh karena itu, Kecamatan Cisolok dan Cikakak kini memasuki tahap transisi menuju proses pemulihan.
“Masa darurat telah berakhir. Selanjutnya, perhatian pemerintah daerah adalah pada pemulihan dan kembalinya kehidupan masyarakat seperti biasa,” ujar Eki dalam keterangan resmi, Minggu 2 November 2025.
Wakil Bupati Sukabumi Andreas menyampaikan bahwa pemerintah daerah bersama dengan komponen Forkopimda telah melakukan evaluasi terkait penanganan banjir dan longsor. Andreas menjelaskan, Pemkab Sukabumi telah menetapkan langkah berikutnya menuju masa transisi pemulihan.
Ia menjelaskan, berdasarkan indikator yang tersedia, Kabupaten Sukabumi kini siap memasuki tahap transisi dari darurat menuju pemulihan. Namun, Andreas tetap mengingatkan warga di wilayah rentan agar tetap waspada terhadap kemungkinan bencana saat musim hujan. Ia juga meminta petugas untuk selalu siaga.
Data terkini yang dikumpulkan oleh petugas BPBD menunjukkan bahwa banjir dan tanah longsor di Kecamatan Cisolok telah memengaruhi 1.028 kepala keluarga atau sebanyak 3.473 jiwa. Dari jumlah tersebut, 37 orang harus meninggalkan tempat tinggalnya. BPBD juga melaporkan kerusakan pada 39 rumah berat, 23 rumah sedang, dan 400 rumah ringan. Selain itu, bencana ini juga merusak infrastruktur umum seperti jalan, TPT, jembatan, masjid, sekolah, hingga kantor desa.Aris Mohamad Fitrian, Bambang Arifianto, Herlan Heriyadie, Malby AR, Satira Yudatama, Tommi Andryandy)***









