Kesadaran Media Sosial Pasca Konten Viral Pertalite Surabaya

Forum Kota4 Views

-Di tengah perkembangan pesat era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Informasi bisa menyebar dengan sangat cepat, baik yang bersifat positif maupun negatif.

Hanya saja, kemudahan ini juga menimbulkan tantangan yang signifikan, khususnya terkait penyebaran hoaks dan informasi palsu. Salah satu contoh kasus yang viral dan diduga mengandung disinformasi adalah isu tentang bahan bakar pertalite di Surabaya yang diberitakan mengandung campuran air hingga menyebabkan kendaraan mogok.

Tindakan cerdas dalam bermedia sosial sangat krusial agar masyarakat tidak mudah terjebak oleh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Ketua Forum Keamanan Siber Indonesia (ICSF) serta pengamat media sosial Ardi Sutedja memberikan masukan agar masyarakat tidak mudah terjebak oleh informasi yang beredar di media sosial. Setiap individu sebaiknya tidak mudah percaya terhadap data yang beredar di dunia maya.

“Pertama, setiap orang sebaiknya terbiasa tidak langsung percaya dan menyebarkan berita yang baru diterima, khususnya jika sumbernya tidak dapat dipercaya,” ujar Ardi Sutedja.

“Memverifikasi informasi melalui media resmi dan sumber yang dapat dipercaya harus menjadi kebiasaan utama sebelum mengambil keputusan atau menyebarkannya kepada orang lain,” ujar Ardi saat dihubungi., Minggu (2/11).

Langkah kedua, yaitu pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap literasi digital. Termasuk pula dalam edukasi cara mengenali berita palsu, memahami ciri-ciri penyebaran informasi yang tidak benar, serta kemampuan membedakan antara pendapat dan fakta.

“Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat bisa berperan penting dalam menyelenggarakan pelatihan literasi digital, agar masyarakat memiliki kemampuan kritis dalam memilah informasi,” kata Ardi Sutedja.

Ketiga, menurutnya, masyarakat perlu mengembangkan sikap skeptis yang sehat. Sikap ini tidak berarti selalu meragukan semua informasi, tetapi lebih pada rasa yang tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang beredar tanpa bukti yang jelas.

Bahkan, diskusi terbuka dan dialog yang sehat antar warga perlu ditingkatkan, agar dapat muncul ruang untuk klarifikasi sebelum mengambil keputusan.

Keempat, peran tokoh masyarakat, influencerdan media massa sangat penting dalam membentuk pandangan masyarakat yang positif. Mereka diharapkan mampu menjadi teladan dalam menyebarkan data yang benar dan bertanggung jawab, serta berperan aktif dalam mengoreksi berita palsu yang beredar.

Ardi menekankan bahwa menciptakan budaya yang bijak dalam penggunaan media sosial merupakan tanggung jawab bersama. Dengan memprioritaskan verifikasi, literasi digital, sikap kritis, serta partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat, setiap individu mampu membentuk lingkungan informasi yang sehat dan mengurangi dampak buruk dari berita palsu serta penyebaran informasi yang tidak akurat.

“Kehadiran masyarakat yang cerdas dan bijak dalam menggunakan media sosial menjadi benteng paling utama dalam menjaga keseimbangan dan persatuan bangsa pada masa digital saat ini,” ujar Ardi Sutedja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *