PEKANBARU, – Operasi penertiban pertambangan emas ilegal di Desa Pulau Bayur, Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, berakhir ricuh. Petugas gabungan diserang oleh sekelompok warga yang diduga dipicu oleh para pelaku tambang ilegal.
Warga melemparkan batu ke kendaraan petugas operasional hingga enam mobil mengalami kerusakan, termasuk mobil dinas Kapolres Kuansing. Meskipun demikian, Kapolres Kuansing AKBP Raden Ricky Pratidiningrat menyatakan bahwa penertiban PETI tidak akan berhenti.
“Kami tidak akan berhenti menindak aktivitas penambangan emas ilegal di wilayah hukum Polres Kuantan Singingi,” tegas Ricky dalam pernyataan tertulis yang diterima oleh Humas Polres Kuansing, Rabu (8/10/2025).
Saat terjadi bentrokan, petugas sedang melakukan penghancuran terhadap 43 perahu PETI di aliran Sungai Kuantan. Ricky langsung turun tangan memimpin proses penghancuran bersama tim gabungan dari Polri, TNI, Satpol PP, BPBD, dan Polda Riau.
“Pelaksanaan hukum ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan PETI tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga merusak ekosistem serta kualitas air sungai,” ujar Ricky.
Bupati Kuansing Suhardiman Amby hadir dalam kegiatan penertiban, bahkan memakai seragam loreng karena sedang mengikuti pelatihan di Akmil Magelang.
Menurut Ricky, selama beberapa puluhan tahun, air Sungai Kuantan tetap keruh karena adanya pertambangan ilegal. Pihaknya bersikeras untuk mengatur seluruh kegiatan PETI meskipun menghadapi penolakan.
“Pelaksanaan hukum akan terus dilakukan meskipun menghadapi perlawanan. Ini merupakan wujud komitmen kami dalam menjaga lingkungan,” katanya.
Pada kejadian serangan tersebut, tidak ada korban jiwa. Seluruh petugas gabungan berhasil melarikan diri ke Mapolsek Cerenti.
“Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa. Kondisi saat ini sudah aman. Namun kami tetap waspada untuk menghindari kejadian serupa,” ujar Ricky.
Sebelumnya, penertiban PETI di Kuansing dilaksanakan pada Selasa (7/10/2025) sekitar pukul 12.00 WIB. Petugas melakukan penggeledahan dengan menggunakan delapanboatdan menghancurkan puluhan perahu tambang di Sungai Kuantan. Namun, kondisi memburuk ketika massa menutup jalan dan merusak kendaraan petugas.













